Showing posts with label electric. Show all posts
Showing posts with label electric. Show all posts

Monday, December 30, 2013

Penentuan Ukuran Fuse Pada Instalasi Tambahan

Sering ditemukan permasalahan untuk menambah instalasi baru pada sebuah sistem, kemudian pertanyaan yang muncul adalah berapa ukuran fuse yang harus dipasang dan ukuran kabel yang harus digunakan????

Di artikel ini penulis akan mencoba untuk berbagi bagaimana cara menentukan ukuran fuse dan ukuran kabel yang digunakan apabila akan menambah beban baru pada unit.

Sebelum menentukan ukuran fuse, pertama yang harus diketahui adalah ukuran daya (Watt) dari beban yang akan dipasang. Jika sudah diketahui daya yang akan dipasang kemudian dilanjutkan dengan mencari arus yang akan diserap oleh beban menggunakan metode Triangle. Metode Power Triangle menunjukkan bagaimana hubungan antara power (W), voltage (U), dan current (I)

Agar fuse yang digunakan dapat awet, maka ukuran fuse (rated current) harus  dua kali dari arus yang akan melewatinya pada saat operasi normal. Titik putus (Breakpoint) suatu fuse apabila arus yang melewatinya 35% lebih besar dari pada rated current. Breakpoint inilah yang akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan ukuran kabel yang akan digunakan.

Fuse breakpoint (Ampere) = 1.35 x rated current (Ampere)

Contoh:
Beban yang akan dipasang pada suatu unit adalah 260 W, maka:

1. Beban yang digunakan 260 W, maka arus yang akan diserap adalah: 260W/24 V = 10,8 A
2. Ukuran dari fuse adalah (rated current) = 10,8 A x 2 = 21,6 A
3. Maka ukuran fuse adalah 25 A (ukuran fuse diambil satu tingkat diatas rated current)

Sunday, July 7, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 6

REFRIGERANT
Refrigerant memainkan peran yang paling penting pada siklus pendinginan. Beberapa jenis refrigerant tersedia untuk beberapa tipe penggunaan. Karakteristik yang paling kritis dari refrigerant adalah dengan mudah akan mencair atau menguap pada temperatur normal atau temperatur rendah. Walau bagaimanapun, hanya sedikit refrigerant yang digunakan pada AC, tergantung pada beberapa kondisi, seperti tipe kompresor, temperatur penguapan (tekanan), dan temperatur kondensasi (tekanan)

Refrigerant
Persyaratan refrigerant
Secara umum, refrigerant harus memenuhi persyaratan sbb :

1.Tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa.
2.Tidak mudah terbakar atau meledak. Tidak berbahaya bagi manusia dan binatang
3.Mudah untuk diuapkan pada temperatur rendah dan diatas tekanan atmosfir. Mudah untuk dicairkan pada tekanan rendah bahkan jika udara luar panas.
4.Panas laten dalam penguapan besar dan
volume jenis kecil.
5.Temperatur kritis tinggi dan titik beku rendah
6.Secara kimia stabil, tidak akan berkarat
7.Bisa dipakai untuk cakupan yang luas
terhadap temperatur udara luar.
8.Kebocoran refrigerant mudah ditemukan
9.Harga murah, Untuk menjaga biaya operasional rendah

Amonia dan freon adalah tipe gas yang memenuhi persyaratan yang banyak digunakan. AC selalu menggunakan gas tipe freon karena safety dan ukuran yang kecil dari sistem pendinginan.

Wednesday, June 12, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 5

Siklus Pendinginan
Siklus pendinginan dari suatu AC terdiri dari kompresor, kondensor, expansion valve, dan evaporator seperti ditunjukan dalam gambar diagram. Refrigerant disirkulasikan didalam sirkuit dan panas dipindahkan dari sumber temperatur rendah (udara didalam ruang operator) ke sumber temperatur tinggi (udara luar) untuk memberikan pendinginan. Ini dinamakan evaporation compression
refrigeration system. Dan saat ini banyak digunakan pada pendinginan unit, ruangan dan refrigerator kecil.



1) Cairan refrigerant yang meninggalkan receiver dikembangkan dengan tiba-tiba pada expansion valve. Ini akan menjadi uap basah dengan tekanan dan temperatur rendah dan mengalir ke evaporator.

2) Refrigerant uap basah yang mengalir dievaporator mengambil panas dari udara didalam ruangan pada permukaan evaporator. Disini refrigrant diuapkan dan dipanaskan lagi, kemudian diisap lagi ke
kompresor dalam bentuk gas refrigerant. Udara didalam ruangan dihisap ke unit pendingin oleh sebuah fan, didinginkan di permukaan evaporator dan ditiupkan lagi ke ruangan.

3) Gas refrigerant yang diuapkan dievaporator dihisap ke kompresor.

4) Gas refrigerant dipampatkan di kompresor, kemudian dikirimkan ke kondensor dengan tekanan dan temperatur tinggi.

5)Didalam kondensor gas refrigerant didinginkan. Ini akan menjadi refrigerant cair lagi dan mengalir ke receiver.

Dengan mengulangi step 1 s/d 5, panas diambil dari udara pada permukaan evaporator, dan panas disalurkan ke udara pada permukaan kondensor untuk menghasilkan pendinginan didalam ruangan.

Catatan : Temperatur dan tekanan refrigerant bervariasi sesuai dengan aliran udara dan temperatur dari permukaan kondensor.

Pada mesin pendingin yang menggunakan penguapan panas laten, dari refrigerant yang dipakai saat ini, jika gas refrigerant tidak mencair saat mendekati normal temperatur, ini tidak akan dapat mengambil panas laten dari sekeliling refrigerant untuk melakukan pendinginan. Dikatakan secara umum, untuk gas yang akan dicairkan harus bertekanan. Walau bagaimanapun, jika ini didinginkan pada saat yang sama dengan pemberian tekanan, ini dapat dicairkan dengan mudah. Untuk alasan ini kompresor dan kondensor diperlukan pada sistem pendingin saat ini.

Sunday, May 12, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 4

Prinsip dasar pendinginan
1. Mengapa mesin pendingin dapat mendinginkan
Kita semua mempunyai pengalaman terasa dingin ketika kita berkeringat dan angin bertiup, atau ketika menyiram cairan seperti alkohol pada kulit kita. Perasaan ini muncul karena air atau alkohol mempunyai kemampuan untuk menyerap panas dari sekeliling ketika menguap dan berubah menjadi gas.

Jika kita nyatakan dengan jalan lain, jika kita berikan panas ke cairan, cairan ini akan berubah menjadi gas. Panas ini inamakan evaporation latent heat. Dalam sebuah pendingin, freon 12 (R-12) digunakan untuk menggantikan alkohol. Ketika cairan freon 12 berubah menjadi gas, ia akan mengambil panas yang tersembunyi dari sekelilingnya. Biar bagaimanapun jika ini kita biarkan berubah sebagai gas tidak ekonomis.

Kita butuh sebuah peralatan yang menggunakan suatu metoda untuk mengumpulkan gas ini dan mengembalikanya ke bentuk cair lagi sebelum menguapkanya lagi, dan untuk mengulang perputaran ini secara terus menerus. Zat cair yang berubah menjadi cairan dan kemudian berubah menjadi gas untuk mendinginkan sekelilingnya dinamakan refrigerant (bahan pendingin).

2. Lemari es menggunakan penguapan panas laten
Cairan pendingin (freon 12) dikirimkan dengan tekanan tinggi melalui sebuah valve dimana disini diijinkan untuk mengembang dan dikirimkan ke heat exchanger. Refrigerant mengambil panas dari udara didalam ruangan yang dihisap oleh uap tekanan rendah (uap basah),berubah menjadi gas (uap yang dipanaskan) dan dikeluarkan.

 Udara yang telah kehilangan panasnya ditiupkan ke dalam ruang yang didinginkan. Ini adalah prinsip dasar pendingin, tetapi hanya menggunakan peralatan ini untuk mndinginkan adalah tidak ekonomis dan tidak praktis.

3. Metoda pendinginan
Gas refrigerant dipampatkan oleh compressor dan berubah menjadi temperatur tinggi dan kepadatan tinggi. Kemudian ini dikirimkan ke condenser untuk dirubah menjadi cairan. Jika refrigerant cair ini
di kembangkan secara tiba-tiba di expansion valve,ini akan berubah menjadi uap basah bertemperatur dan bertekanan rendah dan mengalir ke evaporator.


Refrigerant yang masuk ke evaporator berupa uap basah, melewati fin evaporator dan mengambil panas latent dari udara disekelilingnya. Ini akan menyebabakan uap basah ini menguap dan kembali ke bentuk asalnya berupa gas. Demikian refrigerant bekerja untuk mendinginkan udara sekelilingnya dengan demikian mendinginkan ruangan.

Saturday, May 11, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 3

HUMIDITY (KELEMBABAN)
Banyaknya uap air yang terdapat pada udara dinamakan kelembaban (humidity). Kelembaban secara umum dikelompokan sebagai absolut humidity dan relative humidity.

1. Absolut humidity
Absolut humidity adalah berat uap per kg dari udara kering yang terdapat dalam udara basah, dinyatakan dalam satuan x kg/kg. Pada kenyataanya, sebuah diagram udara digunakan untuk menunjukan berat uap yang terdapat dalam 1kg udara basah, Absolut humidity pada diagram udara ditunjukan sebagai berikut :

Absolut humidity =0,03(kg)/1(kg)=0,03kg/kg

2. Relative humidity
Perbandingan antara tekanan uap sebagian P (kg/cm²) dari udara basah dan tekanan maksimal sebagian Ps yang terdapat didalam uap pada kelembaban tersebut (tekanan uap sebagian dari udara jenuh) dinamakan relative humidity.

Relative humidity = P/Ps x 100 (%)

Secara umum ketika kita membicarakan humidity yang kita maksudkan adalah relative  humidity. Ini adalah humidity yang didapat dari hygrometer di rumah – rumah atau diberi dari ramalan cuaca.


Wednesday, May 8, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 2

PRESSURE (Tekanan)
Tenaga yang bekerja pada sebidang luasan dinamakan “pressure”. Secara normal tenaga yang bekerja pada bidang luasan 1cm² ditunjukan dalam satuan kg. Sehingga satuan tekanan : kg/cm²

1. Absolut pressure
Tekanan yang dibebankan pada dinding didalam suatu bejana oleh gas dinamakan tekanan absolut. Yang disebut complete vacuum pressure dimana tidak timbul aktivitas molekul, yang diistilahkan sebagai zero pressure.Absolut pressure ini digunakan sama seperti absolut temperatur ketika memperlakukan masalah secara teoritis. Satuan absolut pressure adalah kg/cm² abs untuk membedakan dari pressure yang biasa.

2. Gauge pressure
Pressure yang diukur dengan pressure gauge pada zero barometric pressure dinamakan gauge pressure. Pressure ini menunjukan perbedaan antara absolut pressure dengan atmospheric pressure.
Untuk perhitungan teoritis, gauge pressure harus dikonversikan ke absolut pressure. Dalam kebanyakan kasus, pressure mengacu pada gauge pressure. Satuan gauge pressure adalah kg/cm² g, untuk membedakan dari pressure yang biasa.

3. Atmospheric pressure
Ini adalah pressure dari udara. Standard atmospheric pressure adalah 1,03 kg/cm² abs.pada permukaan laut.yang sebanding dengan 760 mmHg atau 10,3 m H2O.
Hubungan antara absolut pressure dengan atmospheric pressure ditunjukan dengan rumus sbb :

Absolut pressure = gauge pressure + atmospheric pressure.

Bahkan jika gauge pressure dari gas didalam wadah adalah nol, gas actualnya
adalah 1,03 kg/cm² abs.

4. Vacuum dan derajat kevacuuman
Normalnya pressure gauge mempunyai daerah merah pada skalanya untuk menunjukan bahwa pressure dibawah 0 kg/cm². Gas apapun yang ditunjukan dalam daerah merah adalah dibawah atmospheric pressure. Istilah vacuum mengacu pada ruang yang diisi gas dengan pressure dibawah atmospheric pressure. Vacuum yang sempurna mengacu pada ruang yang benar-benar kosong dari pressure gas (0 kg/cm² abs.). Derajat kevacuuman yang di pakai pada tekanan statis dibawah tekanan
atmosfir dan yang ditunjukan dalam kaitanya dengan absolut pressure dinyatakan dalam cm Hg. Pada skala gauge atmospheric pressure di set pada nol dan prefect vacuum di set pada 76cmHg. Untuk merubah pembacaan, h cmHg, dari vacuum gauge ke absolute pressure P kg/cm² abs. Digunakan rumus :

P = 1,03 x (1 – h/76) dimana derajat
kevacuuman adalah (76-h) cmHg.

Tuesday, May 7, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 1

PANAS

Energi kinetik dari aktifitas suatu molekul pada suatu zat akan menyerap pembentukan panas. Jika panas diberikan pada sebuah zat oleh zat yang lain, temperaturnya akan naik. Jika panas dibawa oleh benda lain, temperaturnya akan turun.

1.Kwantitas panas
Jika panas dirambatkan dari satu zat ke zat yang lainya, temperatur ke dua zat tersebut akan berubah. Besarnya perubahan pada temperatur akan tergantung pada jumlah panas yang dirambatkan. Jumlah panas ditunjukan dalam satuan kalori (Cal) atau kilo kalori (Kcal). Satu cal menunjukan jumlah panas yang diperlukan untuk menaikan temperatur dari 1g air sebesar 1 derajat. Satu Kcal menunjukan jumlah panas yang diperlukan untuk menaikan temperatur 1Kg air sebesar 1 derajat.

2.Panas jenis (specific heat)
Jumlah panas yang diperlukan untuk menaikan atau menurunkan temperatur suatu zat bervariasi tergantung pada type, berat,dan banyaknya perubahan temperatur dari zat tersebut. Jumlah panas yang diperlukan untuk menaikan temperatur dari satu satuan berat zat sebesar 1 derajat dinamakan panas jenis. Satuan dari panas jenis adalah Kcal/kg.º C. Panas jenis sering ditunjukan dengan angka tanpa satuan. Panas jenis yang lebih besar dari suatu zat, lebih sulit untuk dipanaskan dan didinginkan. Panas jenis dari air = 1, adalah nilai terbesar dari benda padat ataupun cair.


Tuesday, June 12, 2012

Pengenalan Cara Kerja Belt Conveyor Dan Bagian - Bagiannya

Belt conveyor dapat digunakan untuk mengengkut material baik yang berupa “unit load” atau “bulk material” secara mendatar ataupun miring.
Yang dimaksud dengan “unit load” adalah benda yang biasanya dapat dihitung jumlahnya satu per satu, misalnya kotak, kantong, balok dll. Sedangkan Bulk Material adalah material yang berupa butir-butir, bubuk atau serbuk, misalnya pasir, semen dll.


Bagian – bagian terpenting Belt conveyor adalah :

a. Belt : Fungsinya adalah untuk membawa material yang diangkut.
b. Idler : Gunanya untuk menahan atau menyangga belt.
Menurut letak dan fungsinya maka idler dibagi menjadi :
  • 1. Idler atas yang digunakan untuk menahan belt yang bermuatan.
  • 2. Idler penahan yaitu idler yang ditempatkan ditempat pemuatan.
  • 3. Idler penengah yaitu yang dipakai untuk menjajaki agar belt tidak bergeser dari jalur yang seharusnya.
  • 4. Idler bawah Idler balik yaitu yang berguna untuk menahan belt kosong.
c. Centering Device : Untuk mencegah agar belt tidak meleset dari rollernya.
d. Unit Penggerak (drive units) : Pada Belt conveyor tenaga gerak dipindahkan ke belt oleh adanya gesekan antara belt dengan “plulley” penggerak (drive pully), karena belt melekat disekeliling pully yang diputar oleh motor.
e. Pemberat (take-ups or counter weight) : Yaitu komponen untuk mengatur tegangan belt dan untuk mencegah terjadinya selip antara belt dengan pully penggerak, karena bertambah panjangnya belt.
f. Bending the belt
Alat yang dipergunakan untuk melengkungkan belt adalah
  • - Pully terakhir atau pertengahan
  • - Susunan Roller-roller
  • - Beban dan adanya sifat kelenturan belt.
g. Pengumpan (feeder) : Adalah alat untuk pemuatan material keatas belt dengan kecepatan teratur.   
h. Trippers : Adalah alat untuk menumpahkan muatan disuatu tempat tertentu.   
i. pembersih Belt (belt-cleaner) : Yaitu alat yang dipasang di bagian ujung bawah belt agar material tidak melekat pada belt balik.
j. Skirts : Adalah semacam sekat yang dipasang dikiri kanan belt pada tempat pemuatan (loading point) yang gterbuat dari logam atau kayun dan dapat dipasang tegak atau miring yang gunanya untuk mencegah terjadinya ceceran.
k. Holdback : Adalah suatu alat untuk mencegah agar Belt conveyor yang membawa muatan keatas tidak berputar kembali kebawah jika tenaga gerak tiba-tiba rusak atau dihentikan.
l. Kerangka (frame) : Adalah konstruksi baja yang menyangga seluruh susunan belt conveyor dan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga jalannya belt yang berada diatasnya tidak terganggu.
m. Motor Penggerak : Biasanya dipergunakan motor listrik untuk menggerakkan drive pulley. Tenaga (HP) dari motor harus disesuaikan dengan keperluan, yaitu :
  • 1. Menggerakkan belt kosong dan mengatasi gesekan-gesekan anatara idler dengan komponen lain.
  • 2. Menggerakkan muatan secara mendatar.
  • 3. Mengankut muatan secara tegak (vertical).
  • 4. Menggerakkan tripper dan perlengkapan lain.
  • 5. Memberikan percepatan pada belt yang bermuatan bila sewaktu-waktu diperlukan.

Saturday, January 21, 2012

Pengetesan Sederhana Battery Relay 4 Terminal

Setelah pada posting terdahulu saya sudah membahas mengenai konstruksi dan cara kerja battery relay, kali ini saya yang akan sharing kepada sobat teknisi mengenai cara sederhana pengetesan battery relay 4 terminal.  


Pengetesan ini kita lakukan dalam kondisi unit ON
1. Hasil pengukuran : Voltmeter menunjuk 24 V dan antara BR dan E.
    Analisa : 
  • Rangkaian dari battery yang melalui   starting switch ke battery relay switch dalam kondisi baik.

2. Hasil pengukuran : Tidak ada tegangan antara R - E.
    Analisa : 
  • D3 dalam keadaan baik.

3. Hasil pengukuran : Voltmeter menunjuk 24 V antara R - E.
    Analisa : 
  • Berarti diode D3 rusak menjadi konduktor.

4. Hasil pengukuran : Tidak ada tegangan antara terminal Br - E.
    Analisa :  
  • Starting switch kontaknya sudah rusak.
  • Kabel penghubung antara starting switch dan battery relay switch putus.
  • Kabel penghubung ke ground ( E ) terputus.

5. Hasil pengukuran : Tidak ada tegangan pada terminal Br - E.
    Analisa :
  • Kontak yang tidak betul pada Starting switch yang menghubungkan terminal B dan Br.
  • Rangkaian yang salah antara starting switch & battery switch.
  • Kabel dari terminal C starting switch putus / lepas.
 semoga dapat bermanfaat..

Thursday, January 19, 2012

Parameter - Parameter Pengecekan Alternator

1. Check mounting bolts
· Check the charge rate at the vehicle battery. periksa charge rate pada baterai kendaraan Using the correct size spanner check all of the mounting bolts of the alternator.

2. Check fan belt
· Check the alternator drive belt for tension and condition.If not in good condition it should be replaced.

3. Check drive pulley
· Check the alternator drive pulley for signs of wear. A worn pulley can give the same effect as a loose fan belt. On machines where the alternator is used to drive the tachometer a worn pulley can lead to a wrong engine RPM reading.


4. Check the main shaft
· Check the main alternator shaft for exessive play. Excessive play is a sign that the bearings or the bearing housing is worn. This is done by firmly gripping the alternator pulley and moving it from
side to side.

5. Check the terminals
· Check all the alternator terminals are tight. You can do this by attempting to move them with your hand. If they are loose you must tighten them. Loose terminals lead to burning of the terminals and the lugs.Inspect them to make sure the connection is clean and the wire is not broken or frayed.

6. Apply korode kure
· Apply korode kure to any exposed terminals. This will prevent corrossion. The Korode kure should also be applied to any ground lugs.

7. Check charge rate
· Check the charge rate at the battery to ensure it is correct.

8. Check charging rate
· Take your multi meter and set it up for test voltage. Go to the machine batteries and put the red probe to positive and the black probe to negative. Read the display this is the charging voltage of the machine.

9. Check state of charge of batteries.
· With the machine not running remove all of the caps of the batteries. One by one use the rubber bulb to draw acid into the glass tube. Read the number on the glass float. This is the specific gravity of the cell being tested.

10. Check R terminal
· Take your multimeter and set it up as Check voltage. Check the voltage between the alternatior terminal R and ground. Red lead of multi meter goes to the R terminal and the black lead of multi meter goes to ground. Read the display this is the R terminal voltage.

11. Test the B+ for voltage drop.
· Set your multi meter for check voltage. Take the red lead of your multi meter to B+ on the alternator. Take the black lead of your multi meter and put it to main + terminal of the battery ( you may to use a jumper wire to assist if the multi meter leads are too short). If the reading is greater than 1 volt this a problem either in a connection or the cable used is too small. Rectify the problem.

12. Check resistance of ground circuit
· Set your multimeter as for check resistance. Check the resistance between the alternator case and battery ( you may need a jumper wire to assist if the multi meter leads are too short). If the reading is any more than 2 ohm this indicates a problem either in a connection or the cable used is too small Rectify the problem.


Tuesday, January 17, 2012

Konstruksi Dan Cara Kerja Alternator


Kali ini kembali ke topik masalah electric system, kita akan membahas tentang alternator. Alternator mempunyai peranan penting dalam sistem charging sebuah unit. Charging System digunakan untuk mengembalikan kondisi battery agar selalu siap digunakan. Hal ini disebabkan kapasitas battery tidak mungkin digunakan secara terusmenerus.

Prinsipnya, tegangan yang dihasilkan alternator diatur oleh regulator sehingga sesuai dengan karakteristik sistem kelistrikannya pada unitnya. Adapun arus yang masuk ke battery (sebagai arus pengisian) dapat dimonitor melalui A meter atau charging lamp yang dihubungkan serie dengan terminal R alternator dan terminal ACC starting switch.


Prinsip kerjanya adalah :

a. Field coil ( rotor coil ) mendapat arus penguat sehingga pada rotor coil   timbul medan magnet.
b. Bila alternator diputar oleh engine, maka medan magnet pada rotor coil   akan dipotong oleh konduktor pada staior coil. Sehingga pada stator coil akan timbul arus listrik.
c. Tegangan bolakbalik yang keluar dari stator kemudian diserahkan oleh diode sehingga menjadi arus searah.

Fungsi semi conductor regulator adalah mengontrol arus penguat ke field coil   ( rotor coil ) sehingga tegangan yang dihasilkan alternator antara 27.5 s/d 29.5 volt.
Prinsip kerja regulator adalah sebagai berikut :



a. Bila starting switch posisi ON, maka arus dari battery akan mengalir ke   rotor coil. Jalannya arus penguat adalah :

Battery - B - R - rotor coil - F - T1 - E

b. Setelah rotor coil menjadi magnet dan alternator diputar oleh engine,   maka dari alternator akan menghasilkan tegangan.

c. Bila out put voltage dari alternator masih kecil amka arus yang keluar   dari alternator akan memperkuat medan magnet pada rotor coil,   sehingga out put voltage dari alternator naik. Out put voltage dari alternator adalah sebanding dengan putaran dan kekuatan medan magnetnya.


d. Saat tegangan mencapai 29,5 volt maka voltage drop di V3 akan
menyebabkan zener diode mendapat reverse - voltage sehingga T2   akan ON dan T1 akan OFF. Dengan demikian arus penguat ke rotor coil   tidak mendapat ground dan kemagnetan akan berkurang sehingga   tegangan   yang dihasilkan alternator akan turun.


e. Bila out put voltage turun mencapai 27,5 volt, maka T2 akan OFF dan T1 kembali ON (bekerja) dan field coil mendapat arus penguat kembali   dan out put  voltage alternator naik kembali.
 
Dengan demikian arus yang keluar dari alternator akan dijaga selalu pada   tengangan regulating yaitu 27,5 volt - 29,5 volt.



Wednesday, December 21, 2011

Konstruksi Dan Prinsip Kerja Starting Motor


Starting motor merupakan komponen vital dalam starting sistem. Karena tanpa adanya starting motor, engine tidak dapat hidup. Seperti halnya motor listrik lainnya, starting motor mengubah tenaga listrik battery menjadi tenaga mekanis putaran. Fungsi starting motor adalah untuk menggerakkan flywheel untuk  menghidupkan engine.

Konstruksi starting motor dapat dilihat pada gambar di bawah 


Prinsip kerjanya dapat dijelaskan sebagai berikut 


Ketika starting switch posisikan START, maka jalannya arus adalah :
   
  C - Hold in coil 1 - ground
  
  C - Pull in coil 2 - field coil - armature - ground

Kemagnetan yang terjadi mampu melawan spring 4, menarik plunger 3   sehingga terminal B - M berhubungan. Saat terminal B - M berhubungan pull   in coil 2 tidak bekerja, sedangkan hold in coil bekerja untuk mempertahankan   agar terminal B - M tetap berhubungan.

Dengan adanya mekanisme shift lever, maka saat plunger bergerak pada   pinion gear akan bergerak maju. Sedangkan pada field coil timbul medan   magnet sehingga saat armature mendapat arus akan di dapat gerakan   berputar ( kopel ) untuk memutar engine.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Powered by Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More