Showing posts with label troubleshooting. Show all posts
Showing posts with label troubleshooting. Show all posts

Monday, December 29, 2014

Intake Dan Exhaust System

Intake and Exhaust System
Intake and exhaust system merupakan salah satu sistem pada engine yang bertujuan untuk
menyalurkan udara ke ruang bakar. Pada sistem ini ada beberapa komponen utama yang
mendukung, diantaranya adalah pre cleaner, air cleaner, intake dan exhaust manifold, dist indicator,
turbocharge dan muffler. Skemanya adalah sebagai berikut:

Intake dan Exhaust System
• Pre Cleaner dan Air Cleaner
Pre cleaner merupakan saringan udara awal dari lingkungan sekitar yang akan disalurkan ke air
cleaner dan selanjutnya menuju ruang bakar. Air cleaner berfungsi sebagai alat pembersih udara,
sehingga debu, pasir dan kotoran dapat dipisahkan terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang bakar.
Partikel yang disaring pada air cleaner ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan air cleaner.
Kotoran, debu dan pasir yang ada di atmosfir merupakan substansi keras yang akan menyebabkan
kerusakan pada silinder dan piston engine dimana debu keras tersebut terhisap bersama-sama
dengan udara.

• Dust Indicator
Dust indikator berfungsi untuk mengetahui kondisi air cleaner, apakah tersumbat atau tidak. Dust
Indicator ini dipasangkan pada tempat-tempat yang mudah terlihat dari luar dan jika menunjuk tanda
merah berarti air cleaner tersumbat.

• Turbocharge
Turbucharge pada diesel engine digunakan untuk memenuhi kebutuhan engine akan udara yang
masuk ke ruang bakar, turbocharge ini akan mengirimkan udara yang lebih banyak untuk mendekati
pembakaran yang ideal. Turbocharger mempunyai dua impeller yaitu turbin dan blower. Turbin impeller diputar oleh gas buang dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Pada ujung poros turbin ini dipasangkan blower impeller sehingga putaran blower impeller sama dengan putaran turbin impeller. Putaran blower akan menghisap udara dari luar dengan kecepatan putar berkisar antara 50.000-150.000 rpm.

 Untuk menahan putaran tinggi tersebut poros turbin di support oleh journal bearing dan thrust bearing. Pada rumah turbin dilengkapi dengan saluran oli untuk pelumasan. Bearing Seal ring dipasang untuk menghindari kebocoran oli ke sisi hisap maupun sisi turbin.

• Muffler
Muffler merupakan saluran untuk melepas gas buang hasil pembakaran ke lingkungan luar. Selain itu,
muffler berfungsi sebagai peredam suara, menghilangkan percikan api dan menurunkan temperatur
gas buang. Muffler mempunyai beberapa tipe diantaranya adalah horizontal type, vertical type dan
catalytic muffler. Dari tipe-tipe di atas hanya ada 2 type yang banyak digunakan yaitu horizontal type
dan vertical type.

Sunday, July 7, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 6

REFRIGERANT
Refrigerant memainkan peran yang paling penting pada siklus pendinginan. Beberapa jenis refrigerant tersedia untuk beberapa tipe penggunaan. Karakteristik yang paling kritis dari refrigerant adalah dengan mudah akan mencair atau menguap pada temperatur normal atau temperatur rendah. Walau bagaimanapun, hanya sedikit refrigerant yang digunakan pada AC, tergantung pada beberapa kondisi, seperti tipe kompresor, temperatur penguapan (tekanan), dan temperatur kondensasi (tekanan)

Refrigerant
Persyaratan refrigerant
Secara umum, refrigerant harus memenuhi persyaratan sbb :

1.Tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa.
2.Tidak mudah terbakar atau meledak. Tidak berbahaya bagi manusia dan binatang
3.Mudah untuk diuapkan pada temperatur rendah dan diatas tekanan atmosfir. Mudah untuk dicairkan pada tekanan rendah bahkan jika udara luar panas.
4.Panas laten dalam penguapan besar dan
volume jenis kecil.
5.Temperatur kritis tinggi dan titik beku rendah
6.Secara kimia stabil, tidak akan berkarat
7.Bisa dipakai untuk cakupan yang luas
terhadap temperatur udara luar.
8.Kebocoran refrigerant mudah ditemukan
9.Harga murah, Untuk menjaga biaya operasional rendah

Amonia dan freon adalah tipe gas yang memenuhi persyaratan yang banyak digunakan. AC selalu menggunakan gas tipe freon karena safety dan ukuran yang kecil dari sistem pendinginan.

Wednesday, June 12, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 5

Siklus Pendinginan
Siklus pendinginan dari suatu AC terdiri dari kompresor, kondensor, expansion valve, dan evaporator seperti ditunjukan dalam gambar diagram. Refrigerant disirkulasikan didalam sirkuit dan panas dipindahkan dari sumber temperatur rendah (udara didalam ruang operator) ke sumber temperatur tinggi (udara luar) untuk memberikan pendinginan. Ini dinamakan evaporation compression
refrigeration system. Dan saat ini banyak digunakan pada pendinginan unit, ruangan dan refrigerator kecil.



1) Cairan refrigerant yang meninggalkan receiver dikembangkan dengan tiba-tiba pada expansion valve. Ini akan menjadi uap basah dengan tekanan dan temperatur rendah dan mengalir ke evaporator.

2) Refrigerant uap basah yang mengalir dievaporator mengambil panas dari udara didalam ruangan pada permukaan evaporator. Disini refrigrant diuapkan dan dipanaskan lagi, kemudian diisap lagi ke
kompresor dalam bentuk gas refrigerant. Udara didalam ruangan dihisap ke unit pendingin oleh sebuah fan, didinginkan di permukaan evaporator dan ditiupkan lagi ke ruangan.

3) Gas refrigerant yang diuapkan dievaporator dihisap ke kompresor.

4) Gas refrigerant dipampatkan di kompresor, kemudian dikirimkan ke kondensor dengan tekanan dan temperatur tinggi.

5)Didalam kondensor gas refrigerant didinginkan. Ini akan menjadi refrigerant cair lagi dan mengalir ke receiver.

Dengan mengulangi step 1 s/d 5, panas diambil dari udara pada permukaan evaporator, dan panas disalurkan ke udara pada permukaan kondensor untuk menghasilkan pendinginan didalam ruangan.

Catatan : Temperatur dan tekanan refrigerant bervariasi sesuai dengan aliran udara dan temperatur dari permukaan kondensor.

Pada mesin pendingin yang menggunakan penguapan panas laten, dari refrigerant yang dipakai saat ini, jika gas refrigerant tidak mencair saat mendekati normal temperatur, ini tidak akan dapat mengambil panas laten dari sekeliling refrigerant untuk melakukan pendinginan. Dikatakan secara umum, untuk gas yang akan dicairkan harus bertekanan. Walau bagaimanapun, jika ini didinginkan pada saat yang sama dengan pemberian tekanan, ini dapat dicairkan dengan mudah. Untuk alasan ini kompresor dan kondensor diperlukan pada sistem pendingin saat ini.

Sunday, May 12, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 4

Prinsip dasar pendinginan
1. Mengapa mesin pendingin dapat mendinginkan
Kita semua mempunyai pengalaman terasa dingin ketika kita berkeringat dan angin bertiup, atau ketika menyiram cairan seperti alkohol pada kulit kita. Perasaan ini muncul karena air atau alkohol mempunyai kemampuan untuk menyerap panas dari sekeliling ketika menguap dan berubah menjadi gas.

Jika kita nyatakan dengan jalan lain, jika kita berikan panas ke cairan, cairan ini akan berubah menjadi gas. Panas ini inamakan evaporation latent heat. Dalam sebuah pendingin, freon 12 (R-12) digunakan untuk menggantikan alkohol. Ketika cairan freon 12 berubah menjadi gas, ia akan mengambil panas yang tersembunyi dari sekelilingnya. Biar bagaimanapun jika ini kita biarkan berubah sebagai gas tidak ekonomis.

Kita butuh sebuah peralatan yang menggunakan suatu metoda untuk mengumpulkan gas ini dan mengembalikanya ke bentuk cair lagi sebelum menguapkanya lagi, dan untuk mengulang perputaran ini secara terus menerus. Zat cair yang berubah menjadi cairan dan kemudian berubah menjadi gas untuk mendinginkan sekelilingnya dinamakan refrigerant (bahan pendingin).

2. Lemari es menggunakan penguapan panas laten
Cairan pendingin (freon 12) dikirimkan dengan tekanan tinggi melalui sebuah valve dimana disini diijinkan untuk mengembang dan dikirimkan ke heat exchanger. Refrigerant mengambil panas dari udara didalam ruangan yang dihisap oleh uap tekanan rendah (uap basah),berubah menjadi gas (uap yang dipanaskan) dan dikeluarkan.

 Udara yang telah kehilangan panasnya ditiupkan ke dalam ruang yang didinginkan. Ini adalah prinsip dasar pendingin, tetapi hanya menggunakan peralatan ini untuk mndinginkan adalah tidak ekonomis dan tidak praktis.

3. Metoda pendinginan
Gas refrigerant dipampatkan oleh compressor dan berubah menjadi temperatur tinggi dan kepadatan tinggi. Kemudian ini dikirimkan ke condenser untuk dirubah menjadi cairan. Jika refrigerant cair ini
di kembangkan secara tiba-tiba di expansion valve,ini akan berubah menjadi uap basah bertemperatur dan bertekanan rendah dan mengalir ke evaporator.


Refrigerant yang masuk ke evaporator berupa uap basah, melewati fin evaporator dan mengambil panas latent dari udara disekelilingnya. Ini akan menyebabakan uap basah ini menguap dan kembali ke bentuk asalnya berupa gas. Demikian refrigerant bekerja untuk mendinginkan udara sekelilingnya dengan demikian mendinginkan ruangan.

Saturday, May 11, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 3

HUMIDITY (KELEMBABAN)
Banyaknya uap air yang terdapat pada udara dinamakan kelembaban (humidity). Kelembaban secara umum dikelompokan sebagai absolut humidity dan relative humidity.

1. Absolut humidity
Absolut humidity adalah berat uap per kg dari udara kering yang terdapat dalam udara basah, dinyatakan dalam satuan x kg/kg. Pada kenyataanya, sebuah diagram udara digunakan untuk menunjukan berat uap yang terdapat dalam 1kg udara basah, Absolut humidity pada diagram udara ditunjukan sebagai berikut :

Absolut humidity =0,03(kg)/1(kg)=0,03kg/kg

2. Relative humidity
Perbandingan antara tekanan uap sebagian P (kg/cm²) dari udara basah dan tekanan maksimal sebagian Ps yang terdapat didalam uap pada kelembaban tersebut (tekanan uap sebagian dari udara jenuh) dinamakan relative humidity.

Relative humidity = P/Ps x 100 (%)

Secara umum ketika kita membicarakan humidity yang kita maksudkan adalah relative  humidity. Ini adalah humidity yang didapat dari hygrometer di rumah – rumah atau diberi dari ramalan cuaca.


Wednesday, May 8, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 2

PRESSURE (Tekanan)
Tenaga yang bekerja pada sebidang luasan dinamakan “pressure”. Secara normal tenaga yang bekerja pada bidang luasan 1cm² ditunjukan dalam satuan kg. Sehingga satuan tekanan : kg/cm²

1. Absolut pressure
Tekanan yang dibebankan pada dinding didalam suatu bejana oleh gas dinamakan tekanan absolut. Yang disebut complete vacuum pressure dimana tidak timbul aktivitas molekul, yang diistilahkan sebagai zero pressure.Absolut pressure ini digunakan sama seperti absolut temperatur ketika memperlakukan masalah secara teoritis. Satuan absolut pressure adalah kg/cm² abs untuk membedakan dari pressure yang biasa.

2. Gauge pressure
Pressure yang diukur dengan pressure gauge pada zero barometric pressure dinamakan gauge pressure. Pressure ini menunjukan perbedaan antara absolut pressure dengan atmospheric pressure.
Untuk perhitungan teoritis, gauge pressure harus dikonversikan ke absolut pressure. Dalam kebanyakan kasus, pressure mengacu pada gauge pressure. Satuan gauge pressure adalah kg/cm² g, untuk membedakan dari pressure yang biasa.

3. Atmospheric pressure
Ini adalah pressure dari udara. Standard atmospheric pressure adalah 1,03 kg/cm² abs.pada permukaan laut.yang sebanding dengan 760 mmHg atau 10,3 m H2O.
Hubungan antara absolut pressure dengan atmospheric pressure ditunjukan dengan rumus sbb :

Absolut pressure = gauge pressure + atmospheric pressure.

Bahkan jika gauge pressure dari gas didalam wadah adalah nol, gas actualnya
adalah 1,03 kg/cm² abs.

4. Vacuum dan derajat kevacuuman
Normalnya pressure gauge mempunyai daerah merah pada skalanya untuk menunjukan bahwa pressure dibawah 0 kg/cm². Gas apapun yang ditunjukan dalam daerah merah adalah dibawah atmospheric pressure. Istilah vacuum mengacu pada ruang yang diisi gas dengan pressure dibawah atmospheric pressure. Vacuum yang sempurna mengacu pada ruang yang benar-benar kosong dari pressure gas (0 kg/cm² abs.). Derajat kevacuuman yang di pakai pada tekanan statis dibawah tekanan
atmosfir dan yang ditunjukan dalam kaitanya dengan absolut pressure dinyatakan dalam cm Hg. Pada skala gauge atmospheric pressure di set pada nol dan prefect vacuum di set pada 76cmHg. Untuk merubah pembacaan, h cmHg, dari vacuum gauge ke absolute pressure P kg/cm² abs. Digunakan rumus :

P = 1,03 x (1 – h/76) dimana derajat
kevacuuman adalah (76-h) cmHg.

Tuesday, May 7, 2013

Pengetahuan Dasar Air Conditioner (A/C) Part 1

PANAS

Energi kinetik dari aktifitas suatu molekul pada suatu zat akan menyerap pembentukan panas. Jika panas diberikan pada sebuah zat oleh zat yang lain, temperaturnya akan naik. Jika panas dibawa oleh benda lain, temperaturnya akan turun.

1.Kwantitas panas
Jika panas dirambatkan dari satu zat ke zat yang lainya, temperatur ke dua zat tersebut akan berubah. Besarnya perubahan pada temperatur akan tergantung pada jumlah panas yang dirambatkan. Jumlah panas ditunjukan dalam satuan kalori (Cal) atau kilo kalori (Kcal). Satu cal menunjukan jumlah panas yang diperlukan untuk menaikan temperatur dari 1g air sebesar 1 derajat. Satu Kcal menunjukan jumlah panas yang diperlukan untuk menaikan temperatur 1Kg air sebesar 1 derajat.

2.Panas jenis (specific heat)
Jumlah panas yang diperlukan untuk menaikan atau menurunkan temperatur suatu zat bervariasi tergantung pada type, berat,dan banyaknya perubahan temperatur dari zat tersebut. Jumlah panas yang diperlukan untuk menaikan temperatur dari satu satuan berat zat sebesar 1 derajat dinamakan panas jenis. Satuan dari panas jenis adalah Kcal/kg.º C. Panas jenis sering ditunjukan dengan angka tanpa satuan. Panas jenis yang lebih besar dari suatu zat, lebih sulit untuk dipanaskan dan didinginkan. Panas jenis dari air = 1, adalah nilai terbesar dari benda padat ataupun cair.


Thursday, June 14, 2012

Spesifikasi Standard Drilling Machine DM45/LP

The DM45/LP (Low Pressure) is a crawler mounted, hydraulic tophead drive, multi--pass rotary
drilling rig specifically designed for rotary action drilling of blastholes up to amaximumdepth of 180
ft. (54.9 meters) and a maximum hole diameter of from 5 in. to 9 in. (127 mm to 228 mm). The
standard DM45/LP utilizes a diesel engine to drive the air compressor and hydraulic system.
Operation of the drill is performed using electric over hydraulic controllers ergonomically located so
that the operator faces the drill centralizer while drilling. The DM45/LP comes equipped with an
asymmetrical rotary screw air compressor.


The DM45/HP (High Pressure) is a crawler mounted, hydraulic tophead drive, multi--pass rotary
drilling rig specifically designed for rotary/percussive action drilling of blastholes up to amaximum
depth of 180 ft. (54.9 meters) and a maximum hole diameter of from 5 in. to 7 in. (127 mm to 203
mm) for DHD (down the hole hammer) drilling using high pressure compressed air. The standard
DM45/HP utilizes a diesel engine to drive the air compressor and hydraulic system. Operation of
the drill is performed using electric over hydraulic controllers ergonomically located so that the
operator faces the drill centralizer while drilling. The DM45/HP comes equipped with an
asymmetrical rotary screw air compressor.

The DM50/LP (Low Pressure) is a crawler mounted, hydraulic tophead drive, multi--pass rotary
drilling rig specifically designed for rotary action drilling of blastholes up to amaximumdepth of 180
ft. (54.9 meters) and a maximum hole diameter of from 7--7/8 in. to 9--7/8 in. (200 mmto 251mm).
The standard DM50/LP utilizes a diesel engine to drive the air compressor and hydraulic system.
Operation of the drill is performed using electric over hydraulic controllers ergonomically located so
that the operator faces the drill centralizer while drilling. The DM50/LP comes equipped with an
asymmetrical rotary screw air compressor.

The DML is a crawler mounted, hydraulic tophead drive, multi--pass rotary drilling rig specifically
designed for production blasthole drilling to depths of 180 ft. (54.9m) with a 30 ft. (9.1m) drill pipe
change. A 35 ft. (10.7m) steel change is also available to handle single pass drilling requirements
to 35 ft. (10.7)m). Various carousel capacities are also available for the 35 ft., (10.7m) option.Hole
size range for rotary drilling applications is nominally 6 in. to 10--5/8 in. (152mm to 270 mm).

For DHD drilling with the high pressure air option, nominal hole size range is 6 in. to 9--7/8 in. (152mm to 250mm). Feed pressure generates a bit load force of up to 60,000 lb. (27,216 kg). The standard DML utilizes a diesel engine to drive the air compressor and hydraulic system.Operation of the drill is performed using electric over hydraulic controllers ergonomically located so that the operator faces the drill centralizer while drilling. The DML comes equipped with an asymmetrical rotary screw air compressor.

To permit optimum performance on a wide range of applications, and site requirements, the
machine is equipped with:
a.) Low pressure compressor installation (DM45LP, DM50LP, DML/LP)
b.) High pressure compressor installation (DM45HP, DML/HP)
c.) Dust suppression equipment
d.) Standard 5 drill rod carousel
e.) Operational controls in a sound proofed cab
f.) High gradeability

The propulsion system features independent hydrostatic drive/service braking of each track,
allowing steering by differential operation of the tramming control levers.
Engine

TheMid--Range series blasthole drill rigs use water cooled engines, with direct injection and turbo
chargers.

Electric starting and belt driven alternator battery charging is standard on all drill models.
The drills are equipped with dual system air filtration. Dry type 2--stage air cleaners, with optional
pre--cleaner, respectively provide clean air to the engine and the compressor.
The engine power / rpm is controlled by the engine speed control switch. The engine is shutdown
either by the removable key “ON/OFF” switch or the emergency stop switch.

Main Frame
The drill main frame consists of a track frame which supports the power pack assembly
(engine/compressor/hydraulic pumps), the combined engine radiator/hydraulic oil cooler, drill
tower assembly and three leveling jacks.

Drill Tower
The drill tower assembly features the hydro-- static driven rotary head and the hydraulic drill feed
systems. A standard 5 drill rod carousel can be controlled from the operators console to provide
safe and easy multi--pass drilling.
By using the angle drilling accessories, hole can be drilled at 5 degree increments from vertical up
to 30 degrees from the vertical.

Controls
All of the controls are positioned for operator convenience in the operator’s cab. Full details are
provided in section 4.

Tramming (Propelling)
Each track is provided with direction (Forward and Reverse) speed control leverswhich control the
tramming speed. This system also provides service braking by moving the respective levers
towards the ’STOP’ position.

Steering
The drill can be steered by adjusting the speed of one track relative to the other.

Braking
Service braking is effected by moving the tramming control lever towards the “STOP” position.
Because the LH and RH track systems are independently controlled, one track acts as secondary
braking for the other.

Parking brakes are incorporated into each track motor assembly and are fail--safe, hydraulically
released, spring applied. These brakes will therefore be applied in the event of loss of brake
release hydraulic pressure due to:
a.) Pressing a RED emergency stop switch
b.) Turning the main key operated “ON/OFF” switch to OFF position.
c.) Hose failure resulting in loss of charge pressure, when themain pumps will cut off the flow
to the tracks.

Operator’s Cab
The operator’s FOPS cab is designed for convenience, ease of control, comfort and safety while
providing maximum visibility to the work area. The operator’s station is sound insulated. A fully
adjustable suspension--mounted seat is standard. Remote Tramming Control is available at Cab
location.

Monday, May 28, 2012

Pengetahuan Dasar Tentang Drilling Rig

A drilling rig is a machine which creates holes in the ground. Drilling rigs can be massive structures housing equipment used to drill water wells, oil wells, or natural gas extraction wells, or they can be small enough to be moved manually by one person. They sample sub-surface mineral deposits, test rock, soil and groundwater physical properties, and also can be used to install sub-surface fabrications, such as underground utilities, instrumentation, tunnels or wells.

Drilling rigs can be mobile equipment mounted on trucks, tracks or trailers, or more permanent land or marine-based structures (such as oil platforms, commonly called 'offshore oil rigs' even if they don't contain a drilling rig). The term "rig" therefore generally refers to the complex of equipment that is used to penetrate the surface of the Earth's crust.

Drilling rigs can be:
  • Small and portable, such as those used in mineral exploration drilling, water wells and environmental investigations.
  • Huge, capable of drilling through thousands of meters of the Earth's crust. Large "mud pumps" circulate drilling mud (slurry) through the drill bit and up the casing annulus, for cooling and removing the "cuttings" while a well is drilled. Hoists in the rig can lift hundreds of tons of pipe. Other equipment can force acid or sand into reservoirs to facilitate extraction of the oil or natural gas; and in remote locations there can be permanent living accommodation and catering for crews (which may be more than a hundred). Marine rigs may operate many hundreds of miles or kilometres distant from the supply base with infrequent crew rotation or cycle
 There are many types and designs of drilling rigs, with many drilling rigs capable of switching or combining different drilling technologies as needed. Drilling rigs can be described using any of the following attributes:

By power used

  • Mechanical — the rig uses torque converters, clutches, and transmissions powered by its own engines, often diesel
  • Electric — the major items of machinery are driven by electric motors, usually with power generated on-site using internal combustion engines
  • Hydraulic — the rig primarily uses hydraulic power
  • Pneumatic — the rig is primarily powered by pressurized air
  • Steam — the rig uses steam-powered engines and pumps (obsolete after middle of 20th Century)

By pipe used

  • Cable — a cable is used to raise and drop the drill bit
  • Conventional — uses metal or plastic drill pipe of varying types
  • Coil tubing — uses a giant coil of tube and a downhole drilling motor

By height

(All rigs drill with only a single pipe. Rigs are differentiated by how many connected pipe they are able to "stand" in the derrick when needing to temporarily remove the drill pipe from the hole. Typically this is done when changing a drill bit or when "logging" the well.)
  • Single — can pull only single drill pipes. The presence or absence of vertical pipe racking "fingers" varies from rig to rig.
  • Double — can hold a stand of pipe in the derrick consisting of two connected drill pipes, called a "double stand".
  • Triple — can hold a stand of pipe in the derrick consisting of three connected drill pipes, called a "triple stand".

By method of rotation or drilling method

  • No-rotation includes direct push rigs and most service rigs
  • Rotary table — rotation is achieved by turning a square or hexagonal pipe (the "Kelly") at drill floor level.
  • Top drive — rotation and circulation is done at the top of the drill string, on a motor that moves in a track along the derrick.
  • Sonic — uses primarily vibratory energy to advance the drill string
  • Hammer — uses rotation and percussive force (see Down-the-hole drill)

By position of derrick

  • Conventional — derrick is vertical
  • Slant — derrick is slanted at a 45 degree angle to facilitate horizontal drilling
by : wikipedia

Saturday, April 21, 2012

Prosedur Start Engine DM45


Untuk menghindari terjadinya kerusakan-kerusakan yg tidak perlu, tentunya kita harus mengetahui beberapa prosedur dalam pengoperasian unit. Berikut ini merupakan beberapa prosedur dalam men-start unit drilling machine


1.   Pastikan semua control dalam kondisi netral atau posisi OFF.
2.   Pastikan Drill/ Propel selector switch dalam posisi DRILL mode.
3.   Pastikan control lever CS dan DCS pada posisi netral.
4.  Pastikan control lever Drill Rotation dan Drill Feed pada posisi netral.
5.  Pastikan emergency stop button switch di tarik ke luar/ posisi ON.
6.   Pastikan engine throttle di setting posisi low idle 1200 rpm.
7. Pastikan tidak ada seseorang dalam kondisi bahaya atau beresiko terkena bahaya sebelum start engine.
8.   Putar kunci kontak posisi ON
9. Tekan dan tahan switch button fuel primer dan dengarkan, primer pump akan berangsur memompa dengan perlahan seiring dengan meningkatnya fuel pressure dan lepas button jika pump sudah terdengar perlahan memompanya.
10. Tarik dan Posisikan compressor on/ off control lever posisi butterfly valve menutup pada compressor.
11. Tekan dan tahan bypass button kemudian tekan switch button engine untuk start engine, lepas start button ketika engine sudah start, dan lepas bypass button ketika engne sudah running.

Rekomendasi Atlas Copco 
 
 
 

 
 
 
 
 

Tuesday, April 3, 2012

Operating Specification OHT CAT 789C

Operating Specifications

Nominal Payload Capacity : 195 tons
Body Capacity (SAE 2:1) : 137 yd3
Top Speed – Loaded : 32.7 mph
Steer Angle : 36 Degrees
Maximum Capacity : Custom
Turning Circle Clearance Diameter : 99.2 ft
Turning Diameter – Front : 90.2 ft

 Engine

Engine Model : Cat 3516B EUI
Net Power – SAE J1349 : 1771 hp
Net Power – ISO 9249 : 1791 hp
Net Power – 80/1269/EEC : 1791 hp
Bore : 6.7 in
Stroke : 7.5 in
Displacement : 4211 in3
Gross Power – SAE J1995 : 1900 hp

Weights – Approximate

Chassis Weight : 218300 lb
Body Weight Range : 26 800-29 950 kg (59,000-71,500 lb)
Gross Machine Operating Weight : 700000 lb

Transmission

Forward 1 : 7.2 mph
Forward 2 : 9.8 mph
Forward 3 : 13.2 mph
Forward 4 : 17.8 mph
Forward 5 : 24.2 mph
Forward 6 : 32.7 mph
Reverse : 6.5 mph

Final Drives

Differential Ratio : 2.35:1
Planetary Ratio : 10.83:1
Total Reduction Ratio : 25.46:1

Suspension

Effective Cylinder Stroke – Front : 4 in
Effective Cylinder Stroke – Rear : 3.5 in
Rear Axle Oscillation : ±5.6°

Brakes

Brake Surface – Rear : 18024 in2
Standards : SAE J1473 OCT90 ISO 3450:1996
Brake Surface – Front : 12662 in2

Body Hoists

Pump Flow – High Idle : 193 gal/min
Relief Valve Setting – Raise : 2500 psi
Body Raise Time – High Idle : 18.9 Seconds
Body Lower Time – Float : 17.3 Seconds
Body Power Down – High Idle : 15.6 Seconds

Approximate Weights – Dual Slope

Gross Weight – Empty : 310525 lb
Chassis : 225500 lb
Body : 59625 lb
Full Liner : 20840 lb
Tail Extension : 1700 lb
Side Boards : 2860 lb

Approximate Weights – Flat Floor

Chassis : 225400 lb
Body : 66200 lb
Grid Liner : 3300 lb
Rear Third Liner : 4200 lb
Gross Weight – Empty : 299100 lb

Capacity – Dual Slope – 100% fill factor

Struck : 96 yd3
Heaped (SAE 2:1) : 137 yd3

Capacity – Flat Floor – 100% fill factor

Struck : 102 yd3
Heaped (SAE 2:1) : 158 yd3

Service Refill Capacities

Fuel Tank (standard) : 851 gal
Cooling System : 175 gal
Crankcase : 77 gal
Steering Tank : 34 gal
Steering System (Includes Tank) : 50 gal
Brake/Hoist Hydraulic Tank : 140 gal
Brake/Hoist System (Includes Tank) : 240 gal
Differential and Final Drives : 154 gal
Torque Converter/Transmission Sump : 59 gal
Torque Converter/Transmission System (Includes Sump) : 20 gal

Approximate Weights – MSD II

Approximate Weights – X

Capacity – MSD II – 100% fill factor

Tires

Standard Tires : 37.00-R57 (E4)

Steering

Steering Standards : SAE J1511 OCT90 ISO 5010:1992

Optional Engine

Body – Dual Slope

AC Drive System

Body – X

Braking System

Dimensions

Weight Distributions – Approximate

Front Axle – Loaded : 33 %
Rear Axle – Loaded : 67 %
Front Axle – Empty : 47 %
Rear Axle – Empty : 53 %

ROPS

Monday, April 2, 2012

Fitur - Fitur Terbaru Pada Excavator Komatsu PC4000-6

 Komatsu Technology and Expertise
• Quality management ISO 9001 certified
• Environmental Management ISO 14001 certified
• High, consistent quality through continuous investment in personnel, design and manufacturing systems and processes


Advanced Hydraulics
Extended reliability and control
• Electronic pump management
• Comprehensive monitored filtration
• Simple open-circuit hydraulic system with high efficiency swing-out oil coolers

Reliability and Durability
Designed for lower operating costs
• Robust structural design developed from field experience and finite element analysis
• Extended life undercarriage wear parts
• Large diameter rollers, idlers and sprockets
• Large surface contact area with extensive precision hardening reduces wear
• Hardened track link pin bores 

Productivity
Designed for more tons per hour
• Powerful digging forces
• Easy bucket filling
• Proven attachment design
• All cylinders mounted under the shovel attachment for additional protection
• Buckets and Wear Packages to suit all material densities and ground conditions

Large Comfortable Cab
Provides full shift comfort
• Komatsu low noise cab on multiple viscous mounts for reduced noise and vibration
• Large volume cab with full view front window (floor to ceiling) increases operator view
• Comprehensive climate control with pressurized, filtered air ventilation and air conditioning
• High specification multi-adjustable air suspension seat, redesigned for mining
• Well elevated operator position provides superior all around view

Powerful Diesel Engine
Komatsu SDA16V160 engine
• Rated 1400 kW 1875 HP, at 1800 rpm
• Electronic engine management
• Low engine emission levels – meets EPA Tier 2 emission regulations
• Time saving oil management system as standard equipment; Centinel Engine Oil Management, Engine Reserve Oil Supply and Eliminator Oil Filter systems

Easy Maintenance
Simple, common-sense design gives quick, easy access to all major components
• Hydraulically operated ground access ladder
• Generous access to all major service points from machinery house floor level
• Enclosed, internally lit machinery house with wall separating engine from pump area
• Automatic central lubrication
• Vehicle Health Monitoring System (VHMS) provides real-time information about the operating systems of the machine
• Ground-level access to hydraulically operated dropdown service center with Wiggins connections 

Sunday, March 25, 2012

Spesifikasi Standard Excavator EX3600-6

Sahabat teknisi, menanggapi pertanyaan seorang pembaca pada artikel fitur terbaru pada EX3600-6, maka berikut ini teknisiberat postingkan artikel mengenai spesifikasi standard pada Excavator EX3600-6. Semoga artikel kali ini dapat menjawabnya.

 
ENGINE
- 140 A alternator
- Heavy-duty type air cleaner with dust ejector
- Cartridge-type engine oil filter
- Cartridge-type engine oil bypass filter
- Cartridge-type fuel filter
- Fan guard
- Isolation-mounted engine
- Auto-idle system
- Emergency engine stop system
- Hydraulic drive cooling-fan system

HYDRAULIC SYSTEM
- E-P control system
- OHS (Optimum Hydraulic System)
- FPS (Fuel-saving Pump System)
- Hydraulic drive cooling-fan system
- Forced-lubrication and forced cooling pump drive system
- Control valve with main relief valve
- Suction filter
- Full-flow filter
- Bypass filter
- Pilot filter
- Drain filter
- High-pressure strainer

CAB
The sturdy cab, with the top guard conforming to OPG Level II (ISO), helps protect the operator from falling objects. Fluid-filled elastic mounts. Laminated glass windshield. Reinforced/tinted (bronze color) glass side and rear windows. Parallel-link-type intermittent windshield wiper. Front windshield washer. Adjustable reclining seat with air suspension. Footrest. Air horn with electric compressor. Auto-tuning AM-FM radio with digital clock. Seat belt. Storage spaces. Floor mat. Air conditioner with defroster. Rearview mirror. Evacuation hammer. Emergency escape device. Trainer's seat. Pilot control shut-off lever.

MONITOR SYSTEMS
- Meters:
Hourmeter. Fuel gauge. Hydraulic oil temperature gauge. Engine coolant temperature gauge. Tachometer. Engine oil pressure gauge. Engine oil temperature gauge. Battery voltage gauge. Ambient temperature.
- Pilot lamps (Green):
Prelub. Auto-Idle. Travel Mode.
- Warning lamps (Red):
Allternator. Engine stop. Coolant overheat. Hydraulic oil level. Auto-Lubrication. Fast-filling. Tension. Electric lever. Emergency engine stop. Top valve. Engine over run. Coolant level. Engine oil pressure. Pump transmission oil level indicator.
- Warning lamp (Yellow):
Exhaust temperature. Fuel temperature. Engine warning. Hydraulic oil overheat. Stairway position. Electrical equipment box. Pump contamination. Air cleaner restriction.
- Alarm buzzers:
Overheat. Engine coolant pressure. Engine coolant level. Fuel temperature. Engine oil pressure. Engine oil temperature. Air intake manifold temperature. Crank case pressure. Pump transmission oil level. Hydraulic oil level. Stop valve close. Fast-fill system panel position (option) Ladder position. Electric lever fault.

DATA LOGGING SYSTEM
- DLU (Data-logging unit) continuously records performance of the engine and the hydraulic system. The record can be downloaded by PC and PDA.

LIGHTS
- 9 working lights. 2 entrance lights. 7 maintenance lights. 2 cab lights.

UPPERSTRUCTURE
- Lockable machine covers
- 40 200 kg counterweight
- Hydraulic drive grease gun with hose reel
- Folding stairs with wide steps
- Swing parking brake

UNDERCARRIAGE
- Travel parking brake
- Travel motion alarm device
- Hydraulic track adjuster with N2 gasaccumulator and relief valve
- 1 270 mm triple grouser shoes

MISCELLANEOUS
- Standard tool kit
- Stairs and handrails (Meeting ISO)
- Recirculation air filter for air conditioner
- Ventilation air filter for air conditioner
- 12 V power terminal board
- Stop valve for transport and reassembly
- Auto-lubrication system (Lincoln) for front-attachment pins, swing bearing, and center joint

OPTIONAL EQUIPMENT
Optional equipment may very by country, so please consult your Hitachi dealer for details.
- Wiggins couplers
- High brightness working lights.
- Back and right side color monitor camera.
- Satellite data transmitting system.
- Travel motor guard.
- Travel device guard.
- Electric oil pump to draw hydraulic oil from suction and return pipe lines.

Friday, March 23, 2012

Fitur - Fitur Terbaru Pada Excavator Hitachi EX 3600-6

Giant-Sized Productivity Based on Hitachi's Theory of Evolution.
Each Hitachi generation listens to the needs of the work site and gives birth to an even-better new generation.

Bucket Passes Bucket Passes to Dump Trucks


Powerful Single Engine-Ready for the task.
Time-proven Cummins diesel engine produces a total of 1 450 kW (1 944 HP) for handling the big excavation jobs.
1 450 kW (1 944 HP)

Emission Control Engine-Helping to protect our environment.
Conforms to U.S. EPA Tier II emission regulations.

Efficient E-P Control-Adjusts power output to the work being performed.
Hitachi's computer-aided Engine-Pump Control (E-P Control) coaxes optimum efficiency from the engine and hydraulic pumps. This innovative system senses load demand and controls engine and pump output for maximum operating efficiency.

Larger Bucket Provides High Work Capacity.
Loading shovel bucket : 21.0 m3
Backhoe bucket : 22.0 m3

Maximum Excavating Force.
- Loading shovel
Arm crowding force : 1 200 kN (122 000 kgf)
Breakout force : 1 050 kN (107 000 kgf)

- Backhoe
Arm crowd force : 951 kN (97 000 kgf)
Bucket digging force : 1 050 kN (107 000 kgf)

Large Bucket-Designed to enhance efficiency.
The large bucket has been shaped specifi cally to enhance scooping and loading operations. Its sharp tilt angle helps boost operating efficiency.
Productivity-Boosting Auto-Leveling Mechanism-One-lever leveling control.
This is another unique Hitachi function developed exclusively for more efficient leveling operations.

Sunday, March 18, 2012

Perhitungan Kapasitas Tenaga Engine

Satuan tenaga yang umum digunakan dan sudah kita bahas pada posting sebelumnya, yaitu satuan HP dan PS.
Tenaga (power) = Kerja /satuan waktu
Kerja (work) = Gaya (force) x jarak (distance)

Pada komponen engine, gaya diwakili oleh beban (load), jarak diwakili dengan panjang (radius/ lengan pada dynamo meter, atau jarak titik pusat main journal terhadap titik pusat pin journal crankshaft), kemudian waktu diwakili oleh kecepatan (putaran per menit/ rpm).

Gaya dikali kecepatan pada engine dinyatakan sebagai torsi (torque), sehingga torsi dapat dinyatakan: Torsi = Gaya x Kecepatan
Maka tenaga engine bisa ditulis dengan formula: P = T x S
Dimana,
P = Power (tenaga)
T = Torque (torsi)
S = Speed (rpm)

Jika suatu poros (shaft) berputar satu kali dalam satu menit dapat dinyatakan bahwa poros tersebut berputar 360º/menit. Jika berputar 3/4 putaran dalam satu menit, maka dapat dinyatakan dengan 0,75 put/mnt. atau 270º /mnt.

Dapat dinyatakan dengan: 1 putaran = 360º = 2π radian

Apabila Speed/kecepatan 1 putaran / mnt = 2π x n/mnt............ atau dalam 1 putaran/dtk = 2π x n/60.

1 PS = 75 kgm/dtk
1 HP = 76,04 kgm/dtk

Karena kecepatan putaran engine biasa menggunakan putaran per menit (rpm), maka harus dirubah menjadi putaran per detik, sehingga menjadi:
P = T x S
P = T x 2π x n/mnt, menjadi:
P = T x 2π x n/60 ........ untuk menjadikan dalam satuan kgm/dtk.

Sehingga tenaga dalam satuan HP, didapat formula:
HP = (T x 2π x n)/(60 x 76,04)
HP = (2π : 4662,4) x T x n
HP = 0,001376 x T x n


Dalam satuan PS, didapat formula:
PS = (T x 2π x n)/(60 x 75)
PS = (2π : 4500) x T x n
PS = 0,001396 x T x n

Contoh penggunaan formula, jika diketahui dari grafik performance engine, engine tersebut mempunyai rated power sebesar 320 hp pada 2000 rpm, maka torque rated nya didapat:

HP = 0,001376 x T x n
HP rated = 0,001376 x Torque rated x n
320 = 0,001376 x T x 2000
Torque rated = 320 : ( 0,001376 x 2000)
Torque rated = 116 Kg.m


 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Powered by Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More